Hujan di Bumi Surga di Langit
Lalu bertemulah kita saat itu
Saat hujan membasahi tak bertepi
Berlalu bersama meski kamu tak mampu mengucap kata
Tak mengapa, aku mengerti kamu pun perlu waktu menghitung yang tertinggal
Saat itu aku pun tahu kau tak lagi punya waktu
Yang kau punya hanya raga yang melompong
Tergerus kerakusanmu akan warna
Kau pun bisu dan tuli, sedang matamu melelehkan air mata
Lewat matamu, kau bilang kau menyesal
Meninggalkan nuranimu bisu dan tuli
Kau bilang padaku nuranimu telah mengajak mulut dan telingamu untuk unjuk rasa
Kini kau hanya seonggok bangkai berbau yang hidup tidak mati pun tidak
Kau setengah mati melolong berharap hujan di bumi
Menjerit meminta surga di langit
Tapi tak ada yang mendengarmu
Karena lolonganmu terbenam oleh air matamu
Sedang yang mengitarimu hanya lalat-lalat yang sibuk mencatat penderitaan, penyesalan dan kemalanganmu
Lalat-lalat itu berdenging, lalu hinggap di sini dan di sana
Semua jijik sekaligus kagum mengikuti dengingan dan gerakan sayapmu
Bahkan mereka makan makanan yang kau makan
Menirumu dengan sempurna, bahkan berusaha menyerupaimu dan terbang bersamamu
Dan, sungguh, sebagai lalat kau bahagia
Lalat membual dan bilang aku lah hujan di bumi dan surga di langit
Karena, aku, kata lalat, bisa hidup di tengah surga kotoran
Aku pun, kata lalat, tak mati di surga langit
Bandarlampung, 24 April 2020
Saat hujan membasahi tak bertepi
Berlalu bersama meski kamu tak mampu mengucap kata
Tak mengapa, aku mengerti kamu pun perlu waktu menghitung yang tertinggal
Saat itu aku pun tahu kau tak lagi punya waktu
Yang kau punya hanya raga yang melompong
Tergerus kerakusanmu akan warna
Kau pun bisu dan tuli, sedang matamu melelehkan air mata
Lewat matamu, kau bilang kau menyesal
Meninggalkan nuranimu bisu dan tuli
Kau bilang padaku nuranimu telah mengajak mulut dan telingamu untuk unjuk rasa
Kini kau hanya seonggok bangkai berbau yang hidup tidak mati pun tidak
Kau setengah mati melolong berharap hujan di bumi
Menjerit meminta surga di langit
Tapi tak ada yang mendengarmu
Karena lolonganmu terbenam oleh air matamu
Sedang yang mengitarimu hanya lalat-lalat yang sibuk mencatat penderitaan, penyesalan dan kemalanganmu
Lalat-lalat itu berdenging, lalu hinggap di sini dan di sana
Semua jijik sekaligus kagum mengikuti dengingan dan gerakan sayapmu
Bahkan mereka makan makanan yang kau makan
Menirumu dengan sempurna, bahkan berusaha menyerupaimu dan terbang bersamamu
Dan, sungguh, sebagai lalat kau bahagia
Lalat membual dan bilang aku lah hujan di bumi dan surga di langit
Karena, aku, kata lalat, bisa hidup di tengah surga kotoran
Aku pun, kata lalat, tak mati di surga langit
Bandarlampung, 24 April 2020
Lalu, pernahkah kamu tanyakan bumi luasnya lautan yang menebarkan ombak hingga ke langit
Membawa gelombang hingga ke tepian
Comments
Post a Comment